Rabu, 16 Mei 2012

Dokter termuda di Indonesia dari UGM masuk MURI


dokter Riana Helmi selaku pemegang rekor lulusan FK termuda
JOGJA (KU) – Universitas Gadjah Mada meraih penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) atas keberhasilan meluluskan sarjana kedokteran termuda, umur 17 tahun 9 bulan atas nama Riana Helmi yang diwisuda 19 Mei 2009 lalu. Penyerahan piagam rekor MURI ini diterima secara simbolis oleh Sekretaris Eksekutif UGM Drs. Djoko Moediyanto, M.A., Sabtu (5/6) di Gedung Auditorium Fakultas kedokteran. Selain memberikan penghergaan ke UGM, MURI juga menyerahkan penghargaan kepada Riana Helmi selaku pemegang rekor lulusan termuda.

Sekretaris Eksekutif UGM Drs. Djoko Moerdiyanto, M.A., dalam sambutannya mengatakan UGM memberikan apresisai kepada MURI yang telah memberikan penghargaan kepada UGM secara kelembagaan dan Riana Helmi selaku mahasiswa yang berhasil lulus sebagai sarjana termuda. Menurut Djoko, penghargaan tersebut sebagai bentuk dari keberhasilan pendidikan yang telah diterapkan oleh Fakultas Kedokteran UGM, dimana Riana Helmi tidak hanya lulus termuda tapi meraih predikat IPK cumlaude. “Dia meraih IPK 3,67,” kata Djoko

Sebagai sarjana termuda, kata Djoko, Riana merupakan sosok yang pantas ditauladani oleh mahasiswa lainnya. Namun begitu yang patut dicontoh lagi bimbngan dari keluarganya yang berhasil mendorong anaknya bisa mengenyam pendidikan di usia muda. “Kita patut bangga, apa yang telah dilakukan keluarganya pantas untuk kita tiru karena berhasil mendorong putrinya bisa seperti ini,” tandasnya.

Untuk Riana, Djoko berpesan agar pendidikan koasistensi yang dijalaninya sekarang ini bisa diselesaikan dengan baik. Setelah dilantik menjadi dokter, djoko berharap Riana bisa melaksankan tugasnya sebagai dokter untuk menagnai maslah kesehatan yang kian berat di tengah masyarakat. “Anda telah berhasil mengharumkan nama UGM. Saya harap setelah anda dilantik sebagai dokter, anda bisa menangani langsung masalah kesehatan di masyarakat,”kata Djoko yang juga menjabat sekretaris POTMA? FK? UGM ini.

Sementara Riana Helmi, mengucakan ucapan terima kasih atas penghargaan yang diterimanya. Dia pun tidak menyangka akan mendapat penghargaan dari MURI. Satu-satu orang yang telah berjasa mendidiknya disebutkan Riana telah berhasil membimbingnya hingga bisa kuliah di UGM. Mulai dari Guru, Dosen dan hingga teman seangkatan kuliahnya di FK UGM.

Namun yang lebih berjasa lagi, kata Riana adalah orang ayah dan ibunya. Terutama sang ayah yang rela menghabiskan akhir pekannya untuk datang menengok dirinya tiap minggu saat baru-baru pertama kuliah di UGM. Sedangan ibunya, menurut Riana tidaka pernah berhenti mendukungnya untuk sukses.ia ingat, ibunya selalu membantu mengerjakan tugas sekolahnya saat ia masuk kelas akselerasi di bangkku SD, SMP dan SMA.

“Kita sering mendengar,di balik kesuksesan seorang laki-laki yang hebat pasti ada seorang wanita yang hebat di belakangnya, namun lebih dari itu bagi saya, dari seorang anak yang hebat, dibelakangnya pasti ada orang tuanya yang tidak kalah hebatnya,” ujar Riana yang disambut tepuk tangan dari hadirin yang mayoritas orang tua mahasiswa yang tergabung dalam Paguyuban Orang Tua Mahasiswa (POTMA) FK UGM.

Museum Rekod Indonesia memberikan piagam MURI ke UGM

Semenjak beberapa tahun lalu pihak Kementerian Pendidikan Nasional mengizinkan sekolah-sekolah di Indonesia untuk melakukan program percepatan pendidikan (akselerasi), sejak SD hingga SMU. Dengan sistem akselerasi itu, maka pendidikan di SD bisa diselesaikan 4 tahun, SMP hanya 2 tahun dan di SMU hanya 2 tahun, sehingga total 8 tahun selesailah seluruh pendidikan dasar itu. Kalau si anak didik masuk SD pada usia 6 tahun, berarti dia bisa lulus SMU pada usia 14 tahun (seperti kasus Riana diatas itu).

Selanjutnya pendidikan di S1 itu, secara teoritis bisa diselesaikan paling cepat sekitar 3 tahunan (@ 24 SKS persemester, sehingga Universitas yang mengambil jumlah total SKS sebanyak 144 SKS untuk sarjana S1, bisa diselesaikan si mahasiswa hanya dalam 6 semester atau 3 tahun. Apalagi kalau fakultas yang bersangkutan, menyelenggarakan pula program semester singkat atau semester pendek, mengisi waktu kosong saat perpindahan semester ganjil ke semster genap setiap tahunnya). Itu artinya si anak didik bisa menyelesaikan studi S1 bisa pada usia 17 tahun. Dan, sekiranya dia dulu masuk SD pada usia 5 tahun (banyak terjadi sebenarnya), maka si anak akan lulus lebih cepat lagi yaitu sekitar usia 16 tahun.

Kalau dia terus ke pascasarjana, di luar negeri program master (S2) ada yang bisa diselesaikan hanya dalam 1 tahun saja, dan bila lanjut ke S3 (Ph.D program), kalau dia memang cerdas, di dalam dan di luar negeri … ada yang bisa menyelesaikan cuma dalam awaktu 1,5 tahun. Di UI beberapa waktu lalu, bahkan ada Doktor ilmu ekonomi yang bisa meyelesaikan disertasi doktornya hanya 1,3 tahun. Dus berarti, kalau si Riana dibiarkan studi terus hingga mencapai gelar Ph.D, dia bisa menjadi Doktor pada usia 20 tahun depan.
<sumber: http://erincoodi.blogspot.com>

Tidak ada komentar:

Posting Komentar